Pamekasan,- Nasib memilukan dialami Rudiyanto, warga Rongkarong Gladak Anyar, Pamekasan, Madura, Jawa Timur.
Meski hidup miskin dan tinggal di rumah tak layak huni, namanya tidak tercatat sebagai penerima satu pun bantuan sosial (bansos) pemerintah.
Berdasarkan hasil verifikasi data bansos per Januari 2026, Rudiyanto tidak terdaftar dalam berbagai skema perlindungan sosial.
Mulai dari bantuan permakanan, bantuan yatim piatu, PBI-JK/PBI JKN Desember 2025, Program Keluarga Harapan (PKH), hingga Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).
Ironisnya, data desil kesejahteraan Pemkab Pamekasan, Rudiyanto masuk kelompok desil 5–10, kategori masyarakat dianggap relatif mampu.
Kondisi di lapangan justru bertolak belakang. Saat tim lintas instansi mendatangi rumahnya, Rabu (14/1/2026).
Tempat tinggal Rudiyanto terlihat sempit dan belum sepenuhnya berdinding tembok, dan bagian belakang rumah masih berupa anyaman bambu.
Dirinya hidup bersama istri dan satu anak kandung. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, ia bekerja sebagai kuli bangunan.
“Saya kerja ikut tukang, kalau ada panggilan ya berangkat. Kalau sepi, ya di rumah. Penghasilan juga tidak tentu,” ujar Rudiyanto.
Ia mengaku tidak mengetahui mengapa namanya tidak masuk dalam data penerima bantuan sosial. Padahal, kondisi ekonomi keluarganya jauh dari kata cukup.
“Saya tidak pernah merasa mampu. Rumah juga begini, anak masih sekolah. Tapi saya pasrah saja, mungkin belum rezeki,” tuturnya lirih.
Berdasarkan hasil asesmen Koordinator Bidang TRC Jaga Kota, material bangunan yang ada di rumah tersebut memang milik Rudiyanto.
Namun, masih menyisakan hutang sekitar Rp7 juta kepada pimpinan kelompok tukang bangunan tempat ia bekerja.
Asesmen itu juga meluruskan informasi terkait dua anak yatim yang disebut tinggal serumah.
Anak laki-laki usia taman kanak-kanak merupakan anak sambung, sementara seorang perempuan berusia 18 tahun adalah adik ipar Rudiyanto.
Menanggapi temuan tersebut, sejumlah unsur lintas organisasi perangkat daerah (OPD) langsung turun ke lokasi.
Hadir dalam peninjauan itu perwakilan Kecamatan Pamekasan, Kelurahan Gladak Anyar, Dinas Sosial, Dinas Pendidikan, Dinas Permukiman, pendamping PKH, serta relawan Jaga Kota.
Sebagai langkah darurat, tim melakukan penggalangan donasi spontan yang berhasil menghimpun bantuan sebesar Rp1 juta.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pamekasan, Akhmad Basri Yulianto, memastikan persoalan pendidikan anak langsung ditangani.
“Anaknya mulai besok sudah masuk SMPN 6 Pamekasan,” ujarnya.
Meski tidak masuk skema beasiswa, pihak sekolah akan memfasilitasi kebutuhan dasar pendidikan secara gratis.
“Mulai dari seragam sekolah, pramuka, hingga pakaian olahraga,” imbuh Basri.
Ia menambahkan, penanganan kasus ini akan dilanjutkan secara terintegrasi oleh OPD terkait, termasuk pembaruan data kesejahteraan.
“Dinas Sosial bersama BPBD akan menindaklanjuti, termasuk pembaruan Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), agar kedepan tidak ada lagi warga miskin luput dari perhatian,” pungkasnya.
Penulis : Kurdi
Editor : Redaksi










