Putusan MK Bukan Lonceng Kematian

- Jurnalis

Sabtu, 22 Februari 2025 - 21:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Caption: Thariq Modanggu.

Caption: Thariq Modanggu.

Mendebarkan, harap-harap cemas, khawatir, ragu, yakin, pesimis, optimis, ditolak permohonan, diterima permohonan, kalah, menang, serta sejumlah rasa yang tak terucap hampir bisa dipastikan campur aduk silih berganti mendera banyak orang, setidaknya di 40 daerah di Indonesia yang menanti Putusan sidang Mahkamah Konstitusi (MK) pada senin 24 Pebruari 2025.

Tulisan singkat ini, mesti saya akui di awal, lahir karena ditagih secara intelektual oleh dua orang adik di lapis generasi sesudah saya: Mirnawati Modanggu dan Ghalib Lahijun. Mirnawati adalah adik biologis-ideologis sementara Ghalib adalah adik ideologis-politis saya.

Empat hari yang lalu Mirnawati menelpon saya yang intinya mendorong saya untuk bikin kata-kata atau caption tentang putusan MK terlepas dari apapun hasilnya. Lalu kemarin, saat makan siang bersama, dengan nada berkelakar Ghalib bilang  “Bang biasanya sudah ada tulisan menunggu putusan MK, misalnya Putusan MK perspektif Teologis”. Saya hanya tersenyum sembari mengangguk, belum terlintas keinginan untuk menulis.

Namun ada rasa senang yang merayap saat itu karena tema-tema kajian teologis saya sebelum terjun di arena politik ternyata masih berbekas dalam pikiran adik saya ini walau saat ini ia telah menjadi anggota DPRD Provinsi Gorontalo. Alhamdulillah berkat energi dan pencerahan subuh “tagihan intelektual” dari kedua adik itu bisa saya penuhi.

Baca Juga :  HPSN Berawal Dari Tragedi TPA di Cimahi

Dua hari lagi Mahkamah Konstitusi akan membacakan putusan: ”menolak permohonan Pemohon atau menerima permohonan Pemohon”. Apapun putusan MK sesungguhnya tidak akan merubah “hukum dasar kehidupan” bahwa kita hidup atau tepatnya kita bisa bertahan hidup karena bantuan orang lain.

Kita bisa ada di level saat ini karena akumulasi jasa-jasa orang lain, yang kita sadari atau tidak, yang kita kenal atau tidak sama sekali. Bisa jadi karena itulah al-Qur’an memberi peringatan keras dengan ganjaran kehinaan bila kita memutuskan silaturrahim (tali kasih sayang) termasuk di dalamnya menyakiti orang lain, apalagi ”menyakiti” yang dipublikasi secara luas dan terang-terangan di media sosial.

Lebih dari itu, pasca putusan Mahkamah Konstitusi, atau tepatnya pasca pemimpin daerah dilantik, mustahil sang pemimpin bisa memenuhi semua tuntutan dari seluruh rakyat dan seluruh tim pemenangan dalam waktu sekejap.

Tentu saja setiap pemimpin punya kelemahan dan kekurangan. Tak seorang manusia pun yang sempurna memang!  Tak seorang pun yang bisa bekerja sendiri, sehebat, secerdas, sekuat dan sekaya apapun dia. Selalu saja ada ruang kritik, ruang partisipasi, ruang tolong-menolong, ruang saling mengontrol, ruang untuk saling mengingatkan.

Belum lagi kondisi kemampuan daerah yang pasti tidak cukup untuk memenuhi setiap tuntutan dan ambisi setiap orang, ditambah lagi peraturan yang makin ketat dan ada penghematan (bahasa halus pemotongan) di sana-sini.

Baca Juga :  Boncengan Tiga, Satu Remaja di Sampang Tewas Usai Ketabrak Mobil

Itu sebabnya, keputusan Mahkamah Konstitusi yang tengah dinanti banyak orang bukanlah lonceng kematian. Sebaliknya ia menjadi lonceng kehidupan baru. Bagi yang menganggap atau dianggap sebagai pemenang tersaji tantangan untuk menunaikan amanah besar dan tidak ringan yang akan ditagih oleh generasi dan dipertanggungjawabkan hingga di hadapan Tuhan.

Sementara yang menganggap atau dianggap kalah tersaji kesempatan besar untuk bangkit menata dan memperkuat sumberdaya sebab banyak hal sesungguhnya yang bisa kita lakukan untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan.

Di dalam pergumulan hidup termasuk pertarungan politik kita manusia terikat pada rumus dasar: “Dan hari-hari pun dipergilirkan diantara manusia, di perang Badar kamu menang, di perang Uhud kamu kalah” Begini kurang-lebih peringatan Tuhan dalam al-Qur’an dengan memberi ilustrasi kemenangan pasukan Rasulullah dalam perang Badar dan kekalahan di dalam perang Uhud.

Dibalik ”pergiliran menang-kalah” disitu ada uji standar kemanusiaan kita: pejuang atau penghianat, bersyukur atau kufur, beramal shaleh atau beramal buruk, menghabiskan umur demi kemaslahatan orang banyak, atau kesenangan pribadi. Semua akan teruji dan terbukti pada waktunya. Wallahu a’lam bissawab.

Oleh: Thariq Modanggu

Berita Terkait

Kasus Pembunuhan Julia Belum Tuntas; Kegigihan Polres Gorut Diuji
Ketua Komisi II Deprov Sidak PETI, Ichsan: Itu Untuk Kepentingan Siapa ?
Mahasiswa Pencinta Alam, Generasi Langka Yang Terpinggirkan
Menanti Kepastian Hukum Tewasnya 3 Penambang PETI Ibarat
Idul Adha, Uswah dan Referensi Muhasabah Diri
Masa Depan Energi Indonesia: Generasi Muda Harus Melek Teknologi Hijau
RTK PMII Komisariat Trunojoyo IAI NATA Sampang Mandek
Politik dan Cahaya Puasa

Berita Terkait

Jumat, 5 Desember 2025 - 08:08 WIB

Kasus Pembunuhan Julia Belum Tuntas; Kegigihan Polres Gorut Diuji

Minggu, 30 November 2025 - 16:42 WIB

Ketua Komisi II Deprov Sidak PETI, Ichsan: Itu Untuk Kepentingan Siapa ?

Sabtu, 27 September 2025 - 09:27 WIB

Mahasiswa Pencinta Alam, Generasi Langka Yang Terpinggirkan

Kamis, 31 Juli 2025 - 09:17 WIB

Menanti Kepastian Hukum Tewasnya 3 Penambang PETI Ibarat

Jumat, 6 Juni 2025 - 10:21 WIB

Idul Adha, Uswah dan Referensi Muhasabah Diri

Berita Terbaru

Caption: sebelum pengukuhan, panitia membacakan SK pengurus ranting dan anak ranting Muslimat NU Kecamatan Kedungdung, (dok. foto istimewa).

Daerah

Perkuat Basis, 600 Muslimat NU Kedungdung Dikukuhkan

Sabtu, 10 Jan 2026 - 17:13 WIB

Caption: Manajer PLN UP3 Madura Fahmi Fahresi, diwawancara usai peresmian PJU baru di JLS Sampang, (dok. Harry Rega Media).

Daerah

PLN Rampungkan Infrastruktur Listrik JLS Sampang

Jumat, 9 Jan 2026 - 17:24 WIB

Caption: kiri, Moh Ramadhoni mewakili Direktur RSUD Pamekasan saat ditemui awak media, (dok. Kurdi Rega Media).

Daerah

RSUD Pamekasan Putus Kontrak Proyek Gedung Rawat Inap

Jumat, 9 Jan 2026 - 13:34 WIB

Caption: potongan video viral, sejumlah warga Desa Penyaksagan menampung cairan dari semburan sumur bor menggunakan botol, (dok. Syafin Rega Media).

Peristiwa

Geger! Sumur Bor di Bangkalan Semburkan Minyak Mentah

Jumat, 9 Jan 2026 - 10:05 WIB