Abaikan Sanksi dan Picu Kericuhan, Cafe Lyco Terancam Ditutup Permanen
SAMPANG – Suasana khusyuk bulan suci Ramadhan di Sampang, Madura, Jawa Timur, mendadak mencekam.
Pasalnya, terjadi kericuhan di Cafe Lyco yang berlokasi di Jalan Syamsul Arifin, Sabtu (14/3/2026) malam.
Insiden tersebut, dipicu adanya acara musik koplo bertajuk “Lyco Ambyar” yang digelar pihak cafe.
Namun, hal itu memicu kedatangan sejumlah massa dari Front Persaudaraan Islam (FPI).
Meski sebelumnya, cafe yang cukup diminati kalangan pemuda ini telah didatangi petugas Satpol PP.
Karena tidak diindahkan, gesekan emosi antara massa FPI dengan pihak pengelola cafe pun terjadi.
Akibatnya, satu orang dari FPI terpaksa diamankan polisi ke Mapolres setempat.
Ketua FPI Sampang Habib Abdurrahman, tidak menampik, satu orang dari ormas yang dipimpinnya diamankan polisi.
“Sempat diamankan, tapi sudah diperbolehkan pulang,” ujarnya saat dikonfirmasi awak media.
Ia mengungkapkan, ihwal kericuhan di cafe Lyco, pihaknya telah berulang kali memberikan nasehat.
Hal tersebut agar tidak menggelar kegiatan yang bersifat maksiat, terutama di bulan Ramadhan.
“Kami datang baik-baik. Ini bukan kali pertama menasehati,” ujarnya.
Namun kata Habib Abdurrahman, pihak Lyco memaksakan demi alasan ekonomi.
“Bahkan alasannya karena pemasaran cafe, hingga akhirnya terjadi gesekan,” jelasnya.
Oleh sebab itu, ia meminta pemerintah daerah supaya melakukan penutupan total terhadap cafe Lyco.
“Karena selalu mengadakan acara-acara yang bertentangan dengan nasehat ulama,” tegasnya.
Terpisah, Kasi Humas Polres Sampang AKP Eko Puji Waluyo, membenarkan atas kejadian tersebut.
Bahkan, satu orang dari ormas FPI sempat diamankan, tapi sudah diperbolehkan pulang.
“Sudah pulang setelah tadi dimintai keterangan,” ujarnya saat ditemui di Mapolres Sampang.
Dikonfirmasi ihwal penyebab kericuhan di cafe Lyco, Eko tidak membeberkan secara mendetail.
“Karena ada acara musik koplo itu. Pamfletnya juga viral di media sosial,” ungkapnya singkat.
Sementara, Plt Kepala Satpol PP Sampang Suadi Asyikin menegaskan, tindakan cafe Lyco sudah keterlaluan.
“Kami tidak akan menoleransi aktivitas yang mengganggu kekhusyukan ibadah di bulan Ramadhan,” tegasnya.
Bagi Suaidi, kesucian bulan Ramadhan lebih penting daripada acara musik koplo tersebut.
“Judulnya saja koplo, ini mencederai bulan suci Ramadhan,” tandasnya saat diwawancara awak media.
Ia mengungkapkan, sebenarnya cafe tersebut masih dalam masa sanksi pembekuan izin selama 6 bulan.
Namun kata Suadi, pihak pengelola cafe Lyco tetap membandel.
“Besok kami segel dan tutup permanen, bangunannya juga akan kami investigasi lebih lanjut,” tegasnya.
Sementara hingga berita ini diterbitkan, pengelola cafe Lyco belum memberikan keterangan, terkait insiden kericuhan tersebut. (hry)



