Pelor Angin Asal Bangkalan Juara Kustomfest, Patahkan Dominasi Moge
BANGKALAN • Karya kustom asal Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur, sukses menggetarkan panggung Kustomfest.
Motor kustom bernama Pelor Angin garapan Ajies Sabara dari bengkel FR 32 Bangkalan berhasil menyabet juara pertama sekaligus penghargaan Best Media Pick.
Prestasi ini terbilang luar biasa. Pelor Angin yang hanya berbasis mesin Honda CBR 150R mampu mematahkan dominasi motor-motor berkapasitas besar seperti Harley-Davidson.
Motor berkonsep boardtracker ini berhasil memikat juri internasional. Desainnya memadukan kreativitas tinggi, orisinalitas, dan detail kearifan lokal Madura.
Sang builder, Ajies Sabara, mengaku tidak memasang target muluk-muluk sejak awal. Ia hanya ingin berpartisipasi dan membawa nama Bangkalan ke level nasional.
“Target kami yang sebenarnya ke sana itu hanya ikut, ikut menjadi partisipan. Alhamdulillah, Allah menjawab, diberikan kepercayaan,” ujarnya, Selasa (13/10/2026).
Kemenangan ini menjadi buah manis dari ketekunan Ajies yang sudah merambah dunia modifikasi sejak 2008. Melalui bengkel FR 32 Bangkalan, ia terus melahirkan karya beridentitas kuat.
Inspirasi desain Pelor Angin terbilang unik karena menyerap filosofi tradisi Sapi Kerap. Perpaduan budaya lokal dan gaya boardtracker melahirkan karakter visual yang khas.
Bagian paling mencuri perhatian terletak pada detail ornamen kayu di tangki motor. Pengerjaannya sangat presisi, rapi, dan bersih.
Bahkan, detail kayu tersebut mendapat pujian khusus dari juri asal Jepang. Sang juri mengaku belum pernah melihat karya sekelas itu di berbagai belahan dunia.
“Motor ini saya keliling dunia belum pernah berjumpa dengan motor sedetail ini, se-clean ini, serapi ini, dan terutama di bagian wood atau kayunya,” ujar Ajies, menirukan apresiasi sang juri.
Apresiasi tersebut membuktikan, kualitas karya tidak diukur dari seberapa besar kapasitas mesinnya. Unsur seni, kesabaran, dan ketelitian menjadi kunci utama.
Di luar aktivitasnya memegang perkakas kustom, Ajies ternyata berprofesi sebagai seorang guru di sekolah menengah kejuruan (SMK).
Proses pengerjaan Pelor Angin sendiri memakan waktu cukup panjang. Pengembangannya dimulai sejak 2018, namun sempat tertunda akibat pandemi dan keterbatasan biaya.
Proyek ini akhirnya bangkit berkat dukungan dari berbagai pihak yang percaya pada potensi lokal. Bebek Sinjay hadir sebagai sponsor utama yang mendampingi proses pembuatan hingga siap berlaga.
Usai menguasai panggung nasional, Pelor Angin bersiap mengepakkan sayap ke tingkat dunia.
Jika tidak ada kendala, motor kustom kebanggaan Madura ini dijadwalkan terbang ke Jepang pada Desember 2026 mendatang untuk mewakili Indonesia.
Bagi Ajies, raihan ini bukan sekadar piala kompetisi, melainkan pesan nyata untuk terus berkarya tanpa batas.
“Jadi tidak hanya melihat karya hanya dari besar kecilnya mesin, tetapi dari kreativitas, ketekunan, dan kesabaran dalam proses pembuatannya,” pungkasnya.
✅ Penulis: Syafin
✅ Editor: Redaksi


