Bangkalan,- Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Bangkalan mengisi Seminar Nasional yang digelar di Kampus Institut Bahri Asyiq (Instiba), Kecamatan Galis, Bangkalan, Sabtu (3/1/2026).
Seminar yang diselenggarakan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Mental Instiba mengangkat tema Pers di Era Post Truth: Antara Fakta, Opini, dan Tanggung Jawab Sosial.
Ketua PWI Bangkalan Mahmud Ismail, hadir sebagai salah satu narasumber.
Mahmud Ismail menilai tantangan dunia jurnalistik saat ini semakin kompleks.
Menurutnya, era post truth memunculkan krisis kepercayaan publik terhadap media dan wartawan.
“Wartawan hari ini tidak hanya dituntut cepat, tetapi juga harus mampu menjaga kepercayaan masyarakat di tengah derasnya arus informasi,” ujar Mahmud dalam pemaparannya.
Ia menjelaskan, membanjirnya informasi di media sosial membuat masyarakat sulit membedakan antara fakta dan hoaks.
Kondisi ini diperparah oleh algoritma media sosial yang lebih mengutamakan konten viral ketimbang kebenaran.
“Algoritma hanya membaca apa yang ramai dan menarik, bukan apa yang benar. Inilah tantangan serius bagi jurnalis,” tegasnya.
Karena itu, Mahmud ketua PWI Bangkalan dua periode berpesan agar calon wartawan tetap menjunjung tinggi kode etik jurnalistik, meski dituntut serba cepat dalam menyajikan berita.
“Konfirmasi, verifikasi, dan keberimbangan adalah prinsip dasar yang tidak boleh ditinggalkan dalam pemberitaan,” katanya.
Pemateri kedua, Redaktur Jawa Pos Radar Madura, Jupri, menambahkan bahwa nilai berita menjadi kunci agar sebuah karya jurnalistik memiliki bobot dan daya tarik bagi publik.
“Ada banyak nilai berita, seperti kualitas, dampak, kedekatan, ketokohan, konflik, keunikan, human interest, signifikansi, keterkinian isu, hingga unsur kejutan,” jelas Jupri.
Ia menilai, pemahaman nilai berita dapat menjadi pembeda antara produk jurnalistik media massa dengan konten media sosial. “Setidaknya media bisa memberi pembeda meski tidak selalu mengalahkan algoritma,” tambahnya.
Sementara itu, Rektor Instiba Bangkalan, Muksin, mengapresiasi kegiatan seminar nasional tersebut. Menurutnya, forum ini penting untuk memperkaya wawasan mahasiswa, khususnya anggota LPM Mental.
“Pengalaman para narasumber sebagai wartawan profesional sangat berharga dan harus diserap secara serius oleh peserta,” katanya.
Ketua LPM Mental Instiba Rahmawati menyampaikan, seminar nasional ini merupakan agenda tingkat nasional pertama yang diselenggarakan LPM Mental.
“Peserta datang dari berbagai kampus di Madura, mulai dari Sampang, Pamekasan, hingga Sumenep. Semua LPM kami undang untuk belajar bersama tentang jurnalistik,” pungkasnya.
Penulis : Syafin
Editor : Redaksi










