Sampang,- Ketua Komisi II DPRD Sampang, Alan Kaisan, mendorong pemerintah desa agar tidak hanya bergantung pada kucuran anggaran dari pemerintah daerah maupun pusat.
Hal tersebut disampaikannya dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (Musrenbang RKPD) Tahun 2027 di Kecamatan Kedungdung, Senin (26/01/2026).
Politisi Fraksi Partai Gerindra ini menegaskan, di tengah kondisi efisiensi anggaran yang dialami Kabupaten Sampang, kreativitas dan inovasi di tingkat desa menjadi kunci utama pembangunan.
Dalam kesempatan tersebut, Alan memberikan catatan kritis terkait profil wilayah yang dipaparkan pihak kecamatan.
Menurutnya, profil kecamatan tidak boleh hanya menampilkan kondisi fisik jalan, melainkan harus memetakan potensi ekonomi secara mendalam.
“Kondisi geografis ekonomi di Kecamatan Kedungdung harus ditampilkan. Kegiatannya seperti apa, grafiknya bagaimana. Kalau hanya dibangun jalan tapi ekonomi tidak bergerak, berarti pembangunan itu tidak bermanfaat,” ujar Alan.
Legislator asal Dapil Kedungdung–Robatal ini mencontohkan potensi lokal, seperti kerajinan tikar di Desa Banyukapah dan pertanian jagung di Desa Batuporo Timur.
“Pemetaan potensi ini penting agar kekurangan di masyarakat dapat didukung, melalui anggaran desa maupun kabupaten,” tandasnya.
Terkait kondisi fiskal, Alan membeberkan bahwa Kabupaten Sampang sedang mengalami efisiensi anggaran yang signifikan dengan pengurangan mencapai sekitar Rp105 miliar.
Ia berharap kepala desa dan masyarakat jangan hanya menuntut ke Bupati. Sekarang saatnya pemerintah desa kreatif dan inovatif.
“Jangan hanya menunggu APBN atau APBD. Buat kegiatan yang bisa menghasilkan pendapatan untuk pembangunan desa sendiri,” tegasnya.
Menurut Alan, jika hanya mengandalkan kabupaten, proses pembangunan akan berjalan lambat lantaran dampak pengurangan anggaran yang cukup luar biasa.
Selain persoalan inovasi, dirinya memberikan rekomendasi strategis terkait Pasar Hewan Kedungdung yang sempat ditutup karena alasan kemacetan.
Ia mendesak agar pasar tersebut dibuka kembali demi meringankan beban transportasi masyarakat.
“Selama ini warga Kedungdung harus merogoh kocek hingga Rp100 ribu untuk membawa sapi ke Sampang. Jika ada pasar lokal, biaya bisa ditekan hingga Rp25 ribu,” ungkap Alan.
Ia mengaku telah berdiskusi dengan Pj Kepala Desa Kedungdung, terkait rencana alih fungsi lapangan sepak bola sebagai lokasi pasar baru, tentunya dengan tetap mengikuti regulasi penggantian lahan.
“Tujuannya dua: mengurai kemacetan dan menghidupkan kembali fungsi pasar hewan,” jelasnya.
Menutup arahannya, Alan meminta Camat Kedungdung lebih tegas menertibkan pasar agar tidak meluber ke jalan raya.
“Orang Kedungdung kalau ada pasar biasanya tumpah ruah ke depan semua. Tolong itu ditertibkan agar arus lalu lintas tetap lancar,” pungkasnya.
Penulis : Harry
Editor : Redaksi










