Dua Bulan Terakhir Penderita DBD di Bangkalan Meningkat

- Jurnalis

Jumat, 1 Maret 2019 - 15:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Plt Direktur RSUD Syamrabu, dr Andri Purnomo saat membagikan bubuk abate kepada penderita DBD di RS Syamrabu.

Plt Direktur RSUD Syamrabu, dr Andri Purnomo saat membagikan bubuk abate kepada penderita DBD di RS Syamrabu.

Bangkalan, (regamedianews.com) – Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) yang dilakukan rawat inap di Rumah Sakit Umum (RSUD) Syarifah Ambami Rato Ebuh (Syamrabu) kian meningkat. Tercatat, dalam dua bulan terakhir, jumlah pasien DBD mencapai 300 orang.

Hingga Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Syarifah Ambami Rato Ebuh (Syamrabu) membagikan bubuk abate kepada keluarga pasien. Untuk mencegah banyaknya pasien penderita Demam Berdarah Dengue (DBD), di Kabupaten Bangkalan, Jumat (01/03/2019).

Plt Direktur RSUD Syamrabu, dr Andri Purnomo mengatakan, pembagian bubuk abate itu diberikan secara gratis kepada keluarga pasien di RSUD Syamrabu, agar bisa mengurangi jumlah penderita DBD. Selain itu, bubuk ini bisa digunakan untuk mencegah perkembang biakan nyamuk Aides Aigepty yang menyebabkan penyakit DBD.

“Pembagian abate ini tepat sekali dalam langkah pencegahan dan menekan perkembangbiakan nyamuk penyebab demam berdarah. Maka itu, koordinasi diperlukan untuk dapat disosialisasikan ke masyarakat mengenai penggunannya. Terlebih kepada keluarga pasien yang berada di sini”, tuturnya, usai membagikan bubuk abate di RS Syamrabu, Jumat (01/03/2019).

Dirinya menambahkan, lebih banyak masyarakat hanya tau fogging. padahal sebenarnya di perlukan pemberantasan. Mulai dari jentik agar perkembang biakan nyamuk Aides Aigepty bisa di tekan. Karena nyamuk ini cenderung berkembang biak di lingkungan air bersih. Hal itu bisa dilakukan melalui pemasangan bubuk abate di tempat penampungan air bersih.

Baca Juga :  Warga Mudik, Kodim Surabaya Timur Intens Gelar Patroli

“Untuk kasus DBD yang di rawat di RSUD sekitar 300 pasien dalam dua bulan terakhir. Pembagian abate dilakukan semata karena kepedulian terhadap seluruh pasien yang ada di RSUD Syamrabu ini. Untuk status penetapan KLB merupakan kewenangan Dinas Kesehatan”, terangnya.

Menurutnya perlu kesadaran masyarakat dalam menjalani hidup sehat. Yakni dengan melakukan 3 langkah M yakni Menutup, Menguras dan Mengubur. Pada saat menguras bak atau wadah air, seharusnya diikuti dengan menggosok dinding bak atau tempat penampungan air tersebut.

“M yang pertama adalah menguras. Tapi bukan cuma menguras melainkan menggosok dinding bak atau tempat penampungan air karena telur nyamuk dapat menempel erat di dinding bak, sehingga perlu disikat untuk dapat terbuang”, ucapnya.

Andri juga menyampaikan biasanya telur nyamuk yang menetas dua hari setelah menyentuh air. Sedangkan untuk setiap harinya nyamuk bertelur sebanyak tiga kali. Meski demikian, telur nyamuk pun ternyata tahan di tempat kering hingga waktu enam bulan.  

Baca Juga :  Kades Margantoko Ucapkan Selamat & Sukses Atas Dilantiknya Kades Bancelok "M. Taufiqurrahman"

Tak hanya itu, pencegahan dengan menguras air tidak cukup untuk mencegah telur nyamuk tinggal bersama manusia. Tindakan menguras perlu didukung dengan menutup segala tempat penampungan air. Bila ada tempat penampungan air yang sulit dikuras. Kemenkes menganjurkan memberikan larvasida, atau racun larva serangga.

Sedangkan, mengenai tindakan mengubur barang bekas, sebenarnya dapat diikuti dengan aksi menggunakan kembali atau mendaur ulang barang yang sudah tak terpakai. Hal ini dikarenakan kemampuan terurai barang bekas di dalam tanah membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun. Dengan begitu, penguburan barang malah dapat menyebabkan limbah baru di masa mendatang.

Selain mengubur, menguras, dan mendaur ulang barang, pihaknya menyarankan penggunaan obat anti nyamuk, tetapi sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Tindakan lainnya adalah dengan menggunakan predator biologis untuk jentik nyamuk, seperti ikan di dalam kolam besar.

“Peran serta masyarakat juga sangat dibutuhkan, ini dari masyarakat untuk masyarakat. Kerja sama antara pemerintah dan masyarakat adalah kunci utama memberantas penyakit, apapun itu, dalam hal ini DBD”, jelasnya. (sfn/tfk)

Berita Terkait

Visi Sampang Terang: Jadikan JLS Magnet Ekonomi
Pemkab Sampang “Sulap” Jalan Gelap Jadi Terang
Prestasi Menurun, Pengurus Baru KONI Pamekasan Dihadapkan Tantangan Berat
Wabup Sumenep: Program 2026 Harus Nyata, Bukan Habiskan Anggaran!
Dana BGN Macet, Tujuh SPPG di Sampang Mogok
DPRD Pamekasan Soroti Sentra Batik Kalampar “Mangkrak”
Wabup Sumenep Tekankan ASN Tinggalkan Pola Kerja Lama
Kasus Pajak RSMZ, Ketua GAIB Ultimatum Kejari Sampang

Berita Terkait

Jumat, 9 Januari 2026 - 08:09 WIB

Visi Sampang Terang: Jadikan JLS Magnet Ekonomi

Kamis, 8 Januari 2026 - 21:21 WIB

Pemkab Sampang “Sulap” Jalan Gelap Jadi Terang

Kamis, 8 Januari 2026 - 12:43 WIB

Prestasi Menurun, Pengurus Baru KONI Pamekasan Dihadapkan Tantangan Berat

Rabu, 7 Januari 2026 - 18:33 WIB

Wabup Sumenep: Program 2026 Harus Nyata, Bukan Habiskan Anggaran!

Selasa, 6 Januari 2026 - 14:04 WIB

Dana BGN Macet, Tujuh SPPG di Sampang Mogok

Berita Terbaru

Caption: Bupati Sampang H Slamet Junaidi melakukan peninjauan sebelum meresmikan Penerangan Jalan Umum baru di JLS, (dok. Harry Rega Media).

Daerah

Visi Sampang Terang: Jadikan JLS Magnet Ekonomi

Jumat, 9 Jan 2026 - 08:09 WIB

Caption: Bupati Sampang H Slamet Junaidi meresmikan PJU baru di Jalan Lingkar Selatan, (dok. Harry Rega Media).

Daerah

Pemkab Sampang “Sulap” Jalan Gelap Jadi Terang

Kamis, 8 Jan 2026 - 21:21 WIB