Terkait Perselisihan Davidson, Ini Harapan Ketua DPRD Kab.Gorontalo

0
268
Ketua DPRD Kabupaten Gorontalo (Sahmid Hemu, SE, MM).

Gorontalo, (regamedianews.com) – Perselisihan antara dua Tokoh Besar Davidson (David-Nelson) di Kabupaten Gorontalo seolah tidak akan pernah menemukan titik temu, dikarenakan saling berbalas pantun di medsos dan memanasnya para pendukung ke dua tokoh tersebut, yang pemicu awalnya mungkin dari masalah penolakan takbir keliling pemuda Dungaliyo.

Ketua DPRD Kabupaten Gorontalo, Sahmid Hemu, SE, MM turut angkat bicara dan prihatin dengan masalah Davidson yang pernah berduet di Pemilihan Gubernur Gorontalo pada tahun 2012 silam.


Baca juga Tak Memenuhi Kuorum, Rapat Paripurna DPRD Bangkalan Ditunda

“Pak Nelson Pomalingo dan Pak David Bobihoe adalah tokoh panutan rakyat Kabupaten Gorontalo, sehingganya biarkan mereka yang tahu bagaimana menyelesaikan masalah ini, karena hal ini tidak bisa di biarkan bergulir dan berlarut-larut seperti saat ini”, kata Sahmid Hemu.

Sekreraris DPC PDIP Kabgor ini yakin dan percaya kalau Nelson dan David bisa mengambil jalan tengah dan menyelesaikan masalah ini.

“Cuma memang saya melihat ada orang-orang sekitar yang memanfaatkan moment ini, apalagi Pilbup 2020 sudah semakin dekat sehingga terkesan “Sexy” untuk di bahas dan di perlebar”, sambungnya.

Jikalau misalnya harus ada yang memediasi, sebetulnya lembaga adat yang wajib mengundang kedua belah pihak untuk menyelesaikannya.

Baca juga Dilantik Sebagai Ketua DPRD Sampang, Ini Langkah Awal Yang Akan Dilakukan Juhari

“Saya yakin kedua tokoh ini mampu dan bisa meredam dan bisa menyelesaikan tanpa ada pihak-pihak yang terlibat ataupun merasa menjadi inisiator. Paling tidak jika memang menemukan jalan buntu, maka inisiatif dari lembaga adat harus berperan”, ungkap Sahmid.

Lembaga adatlah yang paling pas yang bisa mempertemukan kedua tokoh ini. Inilah peran lembaga adat. Ia berharap bahwa polemik atau perdebatan ini terutama masing- masing pendukung untuk saling menahan diri dan tidak perlu membesar-besarkan masalah ini.

“Semua yang di sampaikan kedua tokoh ini saya rasa masih dalam konteks manusiawi, artinya namanya manusia pasti ada khilaf, lupa dan sedikit emosi, tetapi kita yang ada di sekelilingnya senantiasa menahan diri dan tidak harus memanas-manasi situasi ini. Apalagi sekarang masih moment lebaran. Jadi mungkin model miskomunikasi ini yang tersumbat dan harus kita evaluasi kembali”, tutupnya. (onal)


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here