Cerita Korban Q-Net, Kapolres Lumajang: Mereka Dicuci Otaknya

0
238
Kapolres Lumajang (AKBP. Muhammad Arsal Sahban) saat menunjukkan barang bukti kasus bisnis piramida Q-Net.

Lumajang, (regamedianews.com) – Jagat media sosial akhir-akhir ini dihebohkan dengan penangkapan dari pentolan dari PT Q-NET yakni MK (pria, 51 th) oleh Tim Cobra Polres Lumajang. Bukan karena pelakunya, namun ribuan korban yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia yang membuat kasus tersebut benar-benar menjadi trending topic baik di Facebook, Twitter, bahkan di Instagram.

“Di facebook group ‘Sahabat M.A.S’ salah satu akun Facebook bernama @reyesarshavind membagikan kisahnya masuk ke dalam lingkaran bisnis money games Q-Net. Saat itu tahun 2013, dirinya diajak oleh sang pacar untuk bergabung dalam bisnis tersebut”, ungkap Kapolres Lumajang, AKBP. M. Arsal Sahban, Senin (9/9/2019).


Awalnya sang pacar yang merupakan warga Jatiroto Kabupaten Lumajang sudah tak pulang ke rumahnya selama 4 hari. Ia pun berusaha menghubunginya, dan akhirnya berhasil mengetahui lokasi terakhirnya di wilayah Jember melalui pesan singkat BBM.

“Singkat cerita, di Jember dirinya diajak oleh sang pacar untuk bergabung dalam bisnis tersebut dan mendatangi lokasi presentasi bisnis tersebut yang berada di sekitaran kampus STAIN. Dirinya sempat kaget lantaran melihat banyak orang berdandan ala orang kantoran namun sedikit memaksakan diri. Hal ini terlihat lantaran ada beberapa orang yang menggunakan jas, namun terlihat memakai jas kebesaran”, terangnya.

Di tempat tersebut, dirinya mengatakan dikumpulkan dari berbagai orang dari daerah yang berbeda, seperti dari lumajang, Jember, banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, Probolinggo bahkan ada yang dari pulau Bali.

“Ia juga menemukan kejanggalan lain dimana waktu presentasi hingga pukul 1 dini hari dan masih diteruskan presentasi lagi oleh upline mereka hingga jam 3 pagi. Ia menganggap waktu yang tak wajar tersebut adalah cara dari perusahaan tersebut untuk mencuci otak para calon anggota baru”, tandas Arsal.

Keesokan harinya, lanjut Arsal, setelah dibangunkan untuk berolahraga, dirinya bersama sesama calon rekrutan pun diberikan arahan baru lagi, yakni ilmu UGD. UGD disini adalah tips untuk mendapatkan uang secara cepat, yakni U adalah Utang, G adalah Gaden (menggadaikan barang) dan D adalah Dol (jual barang).

“Hal ini dilakukan untuk mendapatkan uang, karena syarat mutlak untuk bergabung dalam bisnis tersebut adalah membeli produk yang bernama ‘cakra’ dengan harga 8,7 juta Rupiah”, ujarnya.

Akhirnya dirinya pun menjual motornya yang dulu ia dapatkan saat bekerja di Pulau Bali sebesar 6 juta rupiah. Lantaran masih kurang, dirinya berusaha mencari pinjaman uang hingga ke kota Banyuwangi. Disana ia bertemu dengan teman nya dan dinasehati agar tak mengikuti bisnis tersebut karena sang teman juga pernah tertipu bisnis tersebut.

“Di akhir catatannya, ia berpesan kepada siapa saja yang hendak mencari pekerjaan agar lebih berhati hati. Apalagi dengan pengalaman nya, jika ada yang menawarkan pekerjaan di sosial media agar lebih diteliti terlebih dahulu seluk beluknya. Ia berharap cukup dirinya lah yang terakhir menjadi korban”, ucapnya.

Menurut Arsal, bahwa sistem kerja dari perusahaan tersebut untuk mencuci otak calon korbannya secara masif dan terorganisir. Dari penuturan akun facebook reyesarshavind, mereka di cuci otaknya sedemikan rupa.

“Mulai menyampaikan selamat pagi walau sudah malam hari, sampai dengan mencari uang dengan jalan apapun, bahkan dipaksa untuk menjual harta benda mereka satu-satunya yang mereka miliki”, ujar Arsal.

Tujuannya hanya supaya mereka membeli barang yang sebenarnya mereka tidak butuhkan. Karena itu syarat untuk bergabung ke bisnis model piramida tersebut. Dan nantinya saat bergabung, merekapun mau tidak mau akan melakukan hal serupa ke korban baru, sehingga terjadi cuci otak yang sangat masif dan sistematis.

“Inilah bahayanya perdagangan dengan sistem piramida, karena barang yang diperjualbelikan hanyalah kedok belaka. Sebenarnya mereka tidak butuh barangnya tapi sistem money games atau permainan uangnya yang mereka harapkan”, tutur Arsal. (har)


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here