Sampang,- Kondisi sektor pertanian di Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, tengah berada dalam sorotan tajam.
Sejumlah mahasiswa aksi demo di depan kantor Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Disperta-KP), Selasa (13/1/2026) pagi.
Aksi ini membawa dua tuntutan krusial: penertiban harga pupuk bersubsidi di atas Harga Eceran Tertinggi (HET), dan pengusutan hilangnya aset berupa mesin hand traktor.
Zainal korlap demo menegaskan, demonstrasi ini bentuk keprihatinan atas buruknya pengawasan Disperta.
“Kami menemukan banyak kios menjual pupuk subsidi melebihi HET,” ujar dalam orasinya.
Hal ini jelas melanggar UU Nomor 19 Tahun 2013,tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani.
Selain itu, pihaknya menuntut kejelasan soal aset negara berupa hand traktor yang hilang.
“Aset itu milik rakyat, bukan milik pribadi yang bisa lenyap tanpa pertanggungjawaban,” cetus Zainal.
Ia mendesak audit terbuka dan meminta Kepala Disperta-KP Sampang untuk mundur.
“Silahkan mundur, jika tidak mampu mengungkap kasus kehilangan aset tersebut,” tegasnya.
Tidak hanya itu, Zainal juga melayangkan ultimatum. Bahkan mengancam akan aksi demo kembali dengan massa lebih besar.
Sementara, Kabid Sarana Pertanian Disperta-KP Sampang Nurdin mengatakan, terkait pupuk subsidi regulasinya sudah jelas.
“Harga HET itu adalah harga mati di tingkat kios,” ujarnya.
Nurdin menegaskan, jika ditemukan penyimpangan atau ada yang menjual diatas HET, agar supaya dilaporkan.
“Silahkan laporkan ke Kementerian Pertanian melalui saluran: Halo Pak Amran,” ucapnya.
Menyikapi hilangnya mesin hand traktor, Nurdin mengaku unitnya sudah ditemukan.
“Terkait prosesnya, kami masih menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut dari pihak kepolisian,” pungkasnya.
Penulis : Harry
Editor : Redaksi










