SUMENEP • Warga Madura tampaknya harus bersiap menghadapi cuaca yang lebih terik.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Trunojoyo Sumenep memprediksi kondisi cuaca di Pulau Garam akan semakin kering dalam beberapa bulan ke depan.

Hal ini dipicu oleh menguatnya embusan angin timuran yang bertiup langsung dari Benua Australia.

Kepala BMKG Trunojoyo Sumenep, Ari Widjajanto mengungkapkan, gangguan cuaca yang sempat melanda wilayah Madura kini telah berakhir. Sirkulasi udara pun kembali ke pola normalnya.

“Angin timuran sekarang sudah kembali bertiup dengan sempurna karena tidak ada gangguan cuaca,” ujar Ari, Selasa (2/6/2026).

Normalnya embusan angin timuran ini berdampak langsung pada berkurangnya tutupan awan di langit Madura.

Minimnya awan membuat sinar matahari langsung menyengat bumi pada siang hari, namun melepaskan panas bumi dengan cepat pada malam hari.

Dampaknya, masyarakat akan merasakan kontras suhu yang cukup mencolok dalam sehari.

“Tutupan awan berkurang sehingga siang hari terasa lebih panas, sementara malam hingga dini hari terasa lebih dingin,” jelasnya.

Ari menambahkan, fenomena alam ini diprediksi akan terus berlangsung dan mencapai puncaknya pada periode Juli hingga September 2026 mendatang.

Melihat perbedaan suhu yang cukup jomplang antara siang dan malam, BMKG mengimbau masyarakat Madura untuk lebih menjaga daya tahan tubuh.

“Perubahan suhu yang cukup ekstrem antara siang dan malam perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi kondisi kesehatan masyarakat,” kata Ari.

Meski cuaca ke depan bakal terasa lebih kering dan panas, ada kabar baik yang disampaikan BMKG.

Hingga saat ini, belum ada indikasi kuat hadirnya fenomena cuaca ekstrem seperti El Nino yang ditakutkan bisa memperparah kekeringan.

Penulis: Red
✅ Editor: Redaksi