SAMPANG • Fenomena cuaca dingin yang tidak biasa melanda wilayah Sampang, Madura, Jawa Timur, dalam beberapa hari terakhir.

Biasanya di saat musim kemarau, cuaca panas dan gersang, kini berubah menjadi dingin menusuk tulang layaknya kawasan pegunungan.

Perubahan suhu yang mendadak ini memicu beragam reaksi dari warga, khususnya para petani yang biasa beraktivitas sejak pagi buta.

Abdul (52) dan Samsul (45), dua orang petani tembakau di Kecamatan Omben mengaku heran dengan kondisi cuaca saat ini.

Mereka mengungkapkan, baru kali ini merasakan hawa dingin yang begitu pekat selama puluhan tahun.

“Cuaca musim kemarau sekarang berbeda dengan sebelumnya, seperti di pegunungan,” ujar Abdul saat ditemui di gardu ronda, Selasa (9/6/2026) malam.

Hal senada diungkapkan Samsul. Ia menceritakan dinginnya air di desanya saat pagi dini hari yang menurutnya sudah tidak wajar.

“Air di gentong rasanya kayak air es di dalam kulkas. Apalagi pas waktu subuh, dinginnya nusuk sampai ke tulang,” ungkapnya.

Fenomena Bediding

Pantauan di lokasi, beberapa kawasan perladangan di Sampang bahkan sempat tertutup kabut tipis pada pagi hari.

Pemandangan langka ini dinilai warga mirip dengan suasana di Kota Malang atau daerah Batu.

Para petani berharap, kondisi ini tidak merusak kualitas tanaman tembakau mereka yang baru memasuki masa tanam.

Penjelasan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). 

Kepala BMKG Sumenep Ari Widjajanto menjelaskan, cuaca cerah di siang hari dan dingin di malam hari merupakan karakteristik utama musim kemarau.

“Penyebabnya, dominasi angin timur hingga tenggara yang bertiup secara konsisten melewati kawasan Madura,” ungkapnya.

Ari menjelaskan, angin tersebut membuat tutupan awan pada siang hari menjadi sangat minim.

“Akibatnya, panas bumi langsung lepas ke atmosfer pada malam hari tanpa penghalang, memicu suhu dingin yang pekat,” tambahnya.

Meski suhu muka laut di perairan utara Jawa terpantau hangat, ia memprediksi peluang terjadinya hujan dalam waktu dekat masih sangat rendah.

“Masyarakat juga diharapkan terus memantau perkembangan cuaca melalui kanal resmi BMKG,” pungkasnya.

✅ Penulis: Harry
✅ Editor: Redaksi