Sri Sultan Hamengkubowono X Kunjungi Pulau Madura Bisa Mempererat Hubungan Madura Dengan Jawa Semakin Harmonis

0
469
Rektor UTM, Muh. Syarif saat menyambut Raja Hamengkubowono X di pintu Masuk Gedung Pertemuan

Bangkalan, (regemedianews.com) – Gubernur daerah Istimewa Yogyakarta Hamengkubowono X sambangi pulau Madura dalam rangka silaturahmi dan menyampaikam pidato kebangsaan di Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Rabu (12/12/2018).

Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung Pertemuan Universitas Trunojoyo Madura (UTM), turut hadir dalam kegiatan tersebut, diantaranya Rektor UTM Muh. Syarif, Bupati, Ketua DPRD, Direktur BUMD, Rektor Universita dan Forkopimda se-Madura, serta kesultanan Bangkalan, Pamekasan, dan Sumenep dan tokoh ulama se-Madura.


H. Ahmad Zaini MA selaku ketua pelaksana dalam sambutannya menyampaikan, bersyukur acara dialog kebangsaan ini berjalan dengan lancar dan khidmat, sehingga diharapkan warga Madura mampu mengambil sisi positif dari apa yang disampaikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X yang merupakan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pihaknya menjelaskan, hubungan antara Madura dan Jawa sejak zaman dahulu terjalin dengan baik, tidak hanya historis, bersifat politik kenegaraan juga tidak dapat dipungkiri, serta juga termasuk aspek sosial, kemudian kultural yang mempunyai kesamaan dan ternyata sampai sekarang hubungan antara Madura dan Jawa tetap terjalin alot.

Dalam aspek sosial kultural hubungan antara Madura dengan Jawa terdapat kesamaan. Meski demikian, hubungan harus di akui antara ada perbedaan, perubahan, terutama dalam kehidupan sosial budaya masyarakat madura pada lapisan bawah.

Baca juga Kunjungan Pertama Raja Yogyakarta Hamengkubowono X Sampaikan Pidato Kebangsaan Di UTM

“Akan tetapi dalam kehidupan sosial budaya masyarakat Madura justru terjadi proses akulturasi dan asimilasi, yaitu banyak unsur-unsur atau nilai-nilai kebudayaan Jawa diserap oleh kebudayaan Madura,” paparnya.

Kondisi ini ternyata masih tetap terasa sampai sekarang, hubungan antara madura dengan Jawa semakin erat, karena secara historis tetap terjalin ikatan kekerabatan. Hal ini terjadi pada zaman kepemerintahan Cakraningrat dengan zaman kekuasaan Amangkurat.

“Mengingat kondisi historis tersebut saya mengharapkan kegiatan ini tidak hanya sekedar ajang silaturahim sesaat, melainkan menjadi pendorong semangat kita bersama dimasa depan,” terangnya.

Selain itu, ia berharap pertemuan ini adalah upaya untuk mendorong semangat bersama untuk menjalin hubungan kekeluargaan yang lebih positif, antara masyarakat Madura dengan Jawa di masa depan.

“Agar hubungan silaturahmi yang sarat dengan nilai-nilai historis ini mendapat legitimasi akademik. Sudah saatnya juga memikirkan secara bersama untuk melakukan kerjasama UTM dengan pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta,” terangnya.

Menurutnya, kegiatan yang sangat positif tersebut agar hubungan silaturahmi yang sarat dengan nilai-nilai historis ini mendapat legitimasi akademik, melalui kegiatan penelitian studi seminar dan semacamnya dalam konteks ini,

“Saya mengajak kepada segenap Insan akademis UTM untuk mulai memikirkan secara bersama dan melakukan kerjasama, antara UTM dengan Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta,” tandasnya.

Baca juga Presiden Jokowi Hadiri Temu Nasional Perempuan Indonesia di Yogyakarta

Hasil penelitian serta Kajian akademik tentu sangat positif bagi pengembangan budaya Madura pada umumnya. secara khusus sangat bermanfaat bagi pengembangan studi ilmu budaya dan lainnya di lingkungan kampus Perguruan Tinggi Negeri Universitas Trunojoyo Madura.

“UTM adalah salah satu perguruan tinggi negeri di Madura yang harus bisa dan mampu menjadi sumber informasi dan referensi utama, tentang Madura bagi masyarakat saat ini, baik di tingkat nasional dan tingkat internasional,” ungkapnya.

Sementara itu, Prof Mahfud MD tokoh Madura menyampaikan, kesempatan tersebut patut disyukuri oleh semua pihak sebab bisa mendengarkan pidato Kebangsaan dari seorang Sri Sultan Hamengku Buwono X yang merupakan termasuk orang berjasa mempertahankan Indonesia.

“Peran Sultan juga menguatkan ikatan kebangsaan seperti pada tahun 1946 ketika pemerintah Indonesia akan dibubarkan, tetapi Yogyakarta segera mengambil tempat kepada Presiden Soekarno dan Bung Hatta serta para menteri agar ibu kota Republik Indonesia di pindah dari Jakarta ke Yogyakarta,” paparnya.

Misalnya, pada awal kemerdekaan Republik Indonesia, keadaan perekonomian sangat buruk, kas negara kosong, pertanian dan industri rusak berat, akibat perang. “Dalam rangka menjamin agar roda pemerintahan RI tetap berjalan, Sri Sultan Hamengku Buwono ke IX menyumbangkan kekayaannya sekitar 6.000.000 Gulden, untuk membiayai pemerintahan, kebutuhan hidup para pemimpin dan para pegawai pemerintah lainnya,” tandasnya.

Sultan Hamengku Buwono Ke X, beliau merupakan sosok penting bahkan ketika saya ditunjuk menjadi menteri oleh Presiden Gus Dur, beliaulah orang yang pertama kali saya temui. “Mari kita ambil sisi positif dari pidato Kebangsaan yang disampaikan oleh Ngarso Dalem (sapaan akrab sehari-hari Sri Sultan),” ungkapnya.

Pria asal Omben Sampang tersebut berharap kepada masyarakat, khususnya di Pulau Madura agar tetap menjaga kondusifitas negeri kita tercinta, khususnya menjelang Pilpres dan Pileg yang akan dilaksanakan April mendatang.

“Situasi negeri ini mungkin saat ini dalam situasi panas karna menjelang pileg dan pilpres oleh karnanya mari kita dengarkan pidato kebangsaan Sri Sultan nanti agar kita memahami pentingnya menjaga kondusifitas dan ketentraman negara kita,” jelasnya.(sfn/har).


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here