Kunjungan Pertama Raja Yogyakarta Hamengkubowono X Sampaikan Pidato Kebangsaan Di UTM

0
472
Sri Sultan Hamengkubowono X di Dampingi tokoh Madura Prof. Mahfud MD, Rektor UTM, Muh. Syarif, serta beberapa Kesultanan di Madura saat berpose usai pemberian penghargaan kepada Sri Sultan Hamengkubowono X

Bangkalan, (regemedianews.com) – Raja Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat di Daerah Istimewa Yogyakarta Hamengkubowono X sambangi Universitas Trunojoyo Madura (UTM), dalam rangka silaturahmi dan menyampaikam pidato kebangsaan di hadapan ratusan elemen tokoh Madura, Forkopimda Provinsi Jawa Timur serta perwakilan Forkopimda empat kabupaten di Madura dan civitas akademika UTM, Rabu (12/12/2018).

Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung Pertemuan Universitas Trunojoyo Madura (UTM), turut hadir dalam kegiatan tersebut, diantaranya Rektor UTM Muh. Syarif, Bupati, Ketua DPRD, Direktur BUMD, Rektor Universita dan Forkopimda se-Madura, serta kesultanan Bangkalan, Pamekasan, dan Sumenep dan tokoh ulama se-Madura.


Pada kesempatan tersebut, Rektor Universitas Trunojoyo Madura Muh. Syarif mengenalkan institusi yang dipimpinnya kepada Sri Sultan Hamengku Buwono X, PTN UTM menjadi perguruan negeri pada tahun 2001 saat ini  terdapat 7 Fakultas yang terdiri dari 37 program studi.

“Saat ini kampus kami menampung mahasiswa sebanyak kurang lebih 16 ribu yang berasal dari 22 provinsi, dan jumlah Dosen sebanyak 402 orang dan memiliki kurang lebih 280 karyawan,” paparnya.

Dirinya bersyukur, sampai saat ini kampus UTM semakin bagus dan semakin hari berkembang dengan baik, serta berapa tahun yang lalu sudah mengembangkan beberapa inovasi -inovasi.

Baca juga Sri Sultan Hamengkubowono X Kunjungi Pulau Madura Bisa Mempererat Hubungan Madura Dengan Jawa Semakin Harmonis

“Antaranya adalah inovasi garam yang telah di apresiasi oleh Kemenristek Dikti menjadi pusat unggulan iptek garam se-Indonesia,” tuturnya.

Rektor yang menjabat kedua kali di UTM tersebut berharap, momentum ini menjadi bagian terpenting bagaimana hubungan antara Madura dan Pulau Jawa dapat diterapkan menjadi hal yang bermanfaat bagi kita untuk masa yang akan datang.

“Diharapkan ini bisa menjadi hal yang bermanfaat bagi kita kedepan untuk membangun dari segala aspek pembangunan bangsa,” tandasnya.

Sementara itu, Sultan HamengkuBuwono Ke X mengatakan, sebelum ia menyampaikan pidato kebangsaan, ia juga menanggapi dan menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya atas undangan dari Universitas Trunojoyo Madura, sehingga bisa bersilaturahmi.

“Kedua betul, bahwa sejarah Madura dan Jogjakarta Mataram, pada saat itu memang berlangsung lama, kami dalam sejarah Jawa mengenal Trunojoyo. tidak hanya itu, tapi saat pemerintahan Mataram dibawah Sultan Agung Hanyokrokusumo melakukan ekspedisi ke Batavia kedua kali, untuk menentang kedatangan VOC atau waktu masuk di Batavia. Di mana ekspedisi ke Batavia itu dari Mataram dibantu dari Madura dan juga dari Bugis,” tuturnya.

Begitu mataram menjadi pindah di Kartosuro di bawah pemerintahan pangkuwono kedua terjadi perjanjian hal negera yaitu Yogyakarta dan Surakarta. Dimana ada pilihan negara itu semua tatanan upacara termasuk pasukan atau tentara saat itu antara Mataram itu diberikan ke Jogjakarta.

“Hingga mungkin Bapak Ibu sekalian kalau melihat di Jogjakarta pada upacara upacara Grebeg maupun kelahiran nabi bilangnya Sekateh, di situ ada peristiwa mengantarkan hubungan yang isinya makanan khas dari Keraton Jogjakarta ke masjid itu dikawal oleh pasukan itu ada yang namanya pasukan Bugis dan baik itu dari ujung pandang, tapi juga ada pasukan yang namanya surokarso itu berasal dari Madura,” tuturnya.

Makanya di Yogyakarta ada yang namanya perkempungan surokarsan di situ Tempat para pasukan itu tinggal yang tugasnya mengawal putra mahkota Keraton Jogjakarta.

“Penguatan nilai-nilai kebangsaan guna merajut ke Indonesiaan, pertanyaan spikulatif sering muncul dalam berbagai pora, benarkah semangat kebangsaan sudah mati atau setidaknya kurang relevan lagi,” ucapnya.

Pertanyaan lanjutannya adakah penguatnya politik identitas berbasis agama yang sering muncul secara laten mengimpikan Negara Islam atau setidaknya semangat menghidupkan kembali Piagam Jakarta berdampak terhadap menyurutnya semangat kebangsaan Sekarang ini.

“Jawaban konstruktifnya adalah perlunya setiap elemen bangsa mengambil peran strategis, untuk membangun semangat kebangsaan yang meng-Indonesia, dengan mendekatkan semua kepentingan sempit atas suku agama ras dan antar golongan,” jelasnya

Diharapkan para kaum intelektual, untuk melakukan transformasi ide-ide kebangsaan dengan metode yang mudah dicerna generasi muda.

“Paparan ini saya bagi menjadi bagian pertama nasionalisme sebagai induk dari nilai-nilai kebangsaan. bagian kedua penguatan fungsi dan peran UKPPIP dan bagian ketiga aktualisasi Pancasila,” ujarnya.

Demokrasi liberal menjadi penanda titik akhir dari revolusi ideologi atau bentuk final dari pemerintahan sekaligus akhir sejarah. Bahkan, Daniel menyatakan bahwa nasionalisme sebagai ideologi telah berakhir. ramalan dengan menandai zaman. dimana nasionalisme yang ditutupi oleh nilai-nilai kebangsaan telah tamat riwayatnya.

“Tetapi apakah benar, fakta menunjukkan, Jepang sukses mengembangankan ilmu pengetahuan industri dan teknologi barat. Kemajuan Korea Selatan berasaskan ajaran konfusius menempatkan penghargaan terhadap pendidikan revitalisasi terhadap budaya sendiri adalah basis ketahanan budaya bangsa Jepang dan Korea terhadap terpaan gelombang Budaya global. Di Amerika Serikat jiwa nasionalisme ditanamkan sejak dini pada jenjang pendidikan tri 10,” terangnya.

Seakan tak punya spiritualitas akibatnya identitas dirinya menjadi ambigu, sekelompok orang orang mengambil peran sikap radikal menganggap perubahan sebagai kemunduran spiritualitas mereka lebih suka menutup diri terhadap globalisasi dan bertahan pada keyakinan serta cara hidupnya secara ketat maka muncullah kelompok radikal di berbagai belahan dunia di Indonesia curang antara kedua kelompok itu yang melempar.

“Apalagi kita tidak bisa membendung kecepatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mempercepat globalisasi masuk dalam ruang ruang privat kita. kecepatan globalisasi itu Kian memperparah lunturnya nilai-nilai kebangsaan saat orang tidak punya filter yang berakibat sangat rentan bagi ketahanan budaya bangsanya,” jelasnya.

Dampak lunturnya nilai-nilai kebangsaan, globalisasi mengubah banyak hal secara mendasar, di dalam konsepsi nilai-nilai kebangsaan mulai kehilangan khasiatnya, sebagai perekat kebhinekaan gerakan gerakan reformasi berhenti bercerita, tentang bangsa penguatan politik identitas basis agama yang bersifat pasti telah mengancam integrasi sosial politik suap bersanding dengan apa yang disebut demokrasi, lebih berkonotasi Imogiri mengobati berbagai sektor Semua menjadi nyaris tanpa sentimen kebangsaan untuk menangkalnya sesegera mungkin.

Baca juga Peringati HKN ke 54, Pemkab Sampang Tekankan Mulai Perilaku Hidup Sehat Dari Diri Sendiri

“Para pemimpin di atas sana selalu bertengkar tidak ada ujung pangkalnya cuma sekedar saling berebut kekuasaan sendiri, demi kekuasaan tanpa usaha serius untuk mencari solusi maka hilanglah martabatnya, sebagai wakil rakyat semuanya ini membuat kita bertanya-tanya. Benarkah kita sebuah bangsa kita terjebak dalam kehidupan keseharian yang serakah dan mau menang sendiri,” paparnya.

Dalam pementasan politik nasional, misalnya dalam debat kampanye kita sepertinya tidak mendengar Ki Dalang dari awal hingga akhir pertunjukan semua terjebak dalam gereget perang pernyataan yang lain, tetapi tidak menyentuh makna yang substansial semuanya terlena dalam pro dan kontra lupa agenda nasional yang mendesak. Dengan metamorfora jernihnya air kebudayaan itu, pendekatan kultural seharusnya menjadi arus utama upaya solusi setengah ketegangan sosial yang berpotensi bisa meluas menjadi desintegrasi bangsa.

“Pendekatan kultural pada hakikatnya adalah mediasi kemanusiaan yang bersumber dari hati nurani, guna tercapainya rekonsiliasi yang berkelanjutan di sinilah peran forum intelektual 45 Jawa Timur, ditunggu untuk penguatan nilai-nilai kebangsaan Indonesia dan bisa menguatkan sekaligus mempersatukan, agar kita tetap satu dalam NKRI berdasarkan Pancasila dan undang-undang Dasar 45 dengan sila keindonesiaan yang berakar pada keindonesia,” pungkasnya. (sfn/har)


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here