SAMPANG • Balutan drama musikal kolosal Bangsacara-Ragapatmi sukses memukau ratusan pasang mata di Pulau Mandangin, Sabtu (15/8/2026).

Gelaran Festival Pesisir Pantai ke-5 yang diinisiasi Husky CNOOC Madura Limited (HCML), SKK Migas, dan Pemkab Sampang ini menjadi panggung nyata kebangkitan ekonomi serta budaya warga pesisir.

Manager Regional Office and Relation HCML, Hamim Tohari mengungkapkan, gelaran tahunan ini dirancang bukan sekadar pesta budaya, melainkan strategi jangka panjang pemberdayaan masyarakat hulu migas.

“Kami langsung masuk pada program yang sekiranya dapat meningkatkan pendapatan serta kemandirian masyarakat lokal secara berkelanjutan,” ujarnya.

Hamim menjelaskan, pendekatan berbasis generating income menjadi fokus utama agar warga pesisir memiliki modal keterampilan dan usaha mandiri yang terus berputar.

“Langkah ini bukan bantuan sesaat, tetapi bagian dari mitigasi sosial dan ekonomi. Kami ingin kehadiran industri hulu migas menciptakan multiplier effect yang dirasakan langsung oleh dapur warga,” jelasnya.

Tidak hanya menggerakkan roda ekonomi, festival ini juga menjadi sarana penggalian kembali kisah dan hikayat lokal Pulau Mandangin yang sempat tersembunyi.

“Luar biasanya, seluruh pesertanya adalah masyarakat nelayan sendiri. Merekalah yang menari dan bermain peran dalam pementasan drama kolosal ini,” ungkap Hamim.

Sementara, Bupati Sampang H. Slamet Junaidi, menyambut hangat kontribusi berkesinambungan dari industri hulu migas tersebut. Ia berpesan agar warga pulau tidak hanya menjadi penonton di wilayahnya sendiri.

“Saya ingin Pulau Mandangin menjadi jujukan wisata sehingga tercipta kemandirian ekonomi. Warga tidak boleh hanya menonton di tanahnya sendiri,” tegasnya.

Daya tarik utama festival ini terletak pada pementasan Mandangin Bergema di panggung megah seluas 20×4 meter. Sebanyak 400 nelayan dan perempuan pesisir tampil memikat usai menjalani latihan intensif selama tiga bulan di sela-sela kesibukan melaut.

“Mengendalikan 400 orang dalam satu panggung itu susahnya luar biasa, tetapi warga Mandangin mampu membawakannya dengan sangat apik,” puji Bupati Sampang.

Kemeriahan festival turut dilengkapi aksi sosial terpadu, mulai dari penyerahan bantuan untuk 50 siswa, intervensi stunting bagi 50 balita, khitanan massal 100 anak, penganugerahan PPM Awards, hingga bazar UMKM binaan.

Selain itu, Dispendukcapil Sampang membuka layanan administrasi kependudukan (adminduk) gratis secara mobile.

“Antusiasme warga sangat tinggi, di mana sekitar 80 persen prioritas layanan terserap untuk perekaman KTP-el,” ungkap Plt Sekretaris Disdukcapil Sampang, Rahmawati AG.

Warga Dusun Barat, Khoiril Umam, mengaku sangat terbantu lantaran tak perlu lagi mengeluarkan biaya menyeberang laut hanya untuk mengurus dokumen kependudukan.

“Layanan ini sangat menghemat biaya transportasi, waktu, dan biaya menginap. Kami berharap sinergi ini juga bisa menghadirkan solusi permanen untuk krisis air bersih,” tuturnya.

Apresiasi senada disampaikan Pj Kepala Desa Mandangin, Choirul Anam, menilai kolaborasi ini berpotensi besar membuka keran pariwisata pulau.

“Kami sangat berterima kasih. Festival ini memberikan manfaat nyata dan berpotensi besar mendongkrak sektor pariwisata serta ekonomi desa kami,” pungkasnya.

Jejak Rekam Festival Pesisir HCML-SKK Migas (2023–2026):

• Festival Pesisir #1 (Awal 2023 – Pulau Mandangin, Sampang): Tema Bersih Pantaiku, Indah Lautku.

• Festival Pesisir #2 (Akhir 2023 – Pulau Gili Iyang, Sumenep): Mengangkat ritual adat memohon hujan, Andrenat.

• Festival Pesisir #3 (2024 – Desa Lobuk, Sumenep): Mengusung tema Taraju sebagai simbol kebersamaan nelayan.

• Festival Pesisir #4 (2025 – Pulau Giligenting, Sumenep): Mengangkat tema Lengghi sebagai penghormatan dan keramahtamahan.

• Festival Pesisir #5 (2026 – Pulau Mandangin, Sampang): Mengangkat drama Mandangin Bergema dan pelayanan publik terpadu.

Penulis: Harry
✅ Editor: Redaksi