Tradisi Per-Peran, Magnet Budaya Pesisir Pamekasan
PAMEKASAN – Gemuruh keceriaan warga pesisir Desa Bandaran dan Desa Kramat, Kecamatan Tlanakan, kembali memuncak pada Minggu (22/03/2026) sore.
Ribuan masyarakat tumpah ruah ke jalanan untuk merayakan Per-Peran, sebuah tradisi turun-temurun yang menjadi magnet budaya setiap tahunnya di Kabupaten Pamekasan.
Tradisi Per-Peran merupakan warisan leluhur yang digelar sebagai bentuk syukur sekaligus ajang silaturahmi akbar bagi warga pesisir.
Uniknya, tradisi ini identik dengan parade kereta kuda (dokar) dan kendaraan hias yang membawa rombongan keluarga menyusuri jalan protokol.
Bagi masyarakat setempat, belum lengkap rasanya merayakan momen pasca-Lebaran tanpa turun ke jalan dalam kemeriahan Per-Peran.
Pantauan di lokasi sejak pukul 15.30 WIB, situasi arus lalulintas di sepanjang jalur Pamekasan-Sampang padat merayap.
Gelak tawa anak-anak dan sapaan antar warga yang saling bertemu di jalan menciptakan atmosfer kekeluargaan yang kental.
Tradisi ini bukan sekadar hiburan, melainkan simbol perekat sosial yang menjaga harmoni antar-desa di wilayah Tlanakan.
Mengingat pusat keramaian berada tepat di jalur poros Trans-Madura, puluhan personel Polres Pamekasan tampak bersiaga di titik-titik krusial seperti Jembatan Bandaran dan area pemakaman desa.
Kehadiran petugas kepolisian kali ini difokuskan pada pengawalan agar tradisi tetap berjalan tanpa memutus arus lalu lintas logistik dan kendaraan umum.
Kapolsek Tlanakan AKP Tamsil Efendi mengatakan, fokus utama pihak kepolisian adalah memastikan ruang gerak masyarakat tetap aman.
“Kami melakukan pengamanan humanis agar masyarakat dapat melaksanakan tradisi Per-Peran dengan khidmat dan ceria, sementara arus kendaraan dari kedua arah tetap terpantau lancar,” ujarnya singkat.
Hingga matahari terbenam sekitar pukul 18.45 WIB, rangkaian acara berlangsung tertib. Setelah parade warga berangsur bubar, petugas tetap bersiaga di lokasi guna memastikan situasi jalur protokol kembali normal.
Per-Peran tahun 2026 ini kembali membuktikan bahwa tradisi lokal mampu bertahan di tengah modernitas, menjadi identitas kebanggaan yang selalu dinanti masyarakat Pamekasan. (mrt)



