Lestarikan Kerapan Sapi Warisan Budaya Madura
MADURA • Semangat melestarikan tradisi leluhur kembali bergelora di Lapangan Motarjih, Pamekasan, Madura, Jawa Timur, Sabtu (2/5/2026).
Melalui ajang Kerapan Sapi HUT Gagak Rimang ke-45, masyarakat Madura membuktikan warisan budaya ini tetap hidup.
Dalam kompetisi bergengsi tersebut, pasangan sapi Banditz Pertelon milik H. Takdir Mukjizat berhasil meraih posisi kedua di kelas bawah.
Capaian ini menjadi bukti, keseriusan merawat tradisi dapat membuahkan prestasi yang membanggakan.
H. Takdir mengungkapkan, keikutsertaan timnya bukan semata-mata mengejar kemenangan.
Baginya, setiap ajang kerapan adalah ruang untuk menjaga eksistensi budaya Madura di mata dunia.
“Kami sangat bersyukur atas posisi kedua ini. Namun yang lebih utama, bagaimana tetap konsisten menjaga marwah tradisi ini,” ujarnya.
Pria yang juga merupakan anggota DPRD Bangkalan ini menegaskan, kerapan sapi memiliki nilai filosofis yang dalam.
“Di dalamnya terdapat simbol kerja keras, sportivitas, dan kekompakan yang menjadi jati diri masyarakat Madura,” ungkapnya.
Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat, terutama generasi muda untuk tidak malu mencintai budaya sendiri.
Menurutnya, regenerasi pemilik sapi dan joki sangat penting agar warisan ini tidak hilang ditelan zaman.
“Kerapan sapi bukan sekadar kompetisi atau adu kecepatan, melainkan bagian dari jiwa Madura yang harus terus dilestarikan,” tegas H. Takdir.
Mesko demikian, ia juga ingin tradisi ini terus hidup dan dikenal luas oleh generasi berikutnya.
“Melalui prestasi yang diraih Banditz Pertelon, saya berharap semangat pelestarian budaya ini semakin kuat,” imbuhnya.
Bagi H. Takdir, setiap piala yang diraih adalah bonus dari sebuah upaya besar dalam merawat identitas bangsa.
“Semangat dan pengalaman menjadi modal berharga bagi kami. Kami akan terus berbenah dan tetap konsisten di jalur pelestarian budaya ini,” pungkasnya. [sfn]


