Belajar Tatap Muka Dimasa Pandemi Covid-19

Helmi (Pelayan Pendidikan).

(Suara Hati Pelayan Pendidikan di Pelosok Negeri)

Ketika belajar tatap muka disekolah diliburkan sebagai salah satu upaya pemerintah Aceh Selatan menghadang laju penularan Covid-19 pertengahan Maret 2020 lalu. Masyarakat memahami keputusan berat ini harus diambil agar kita terhindar dari petaka corona. Pada saat itu Aceh Selatan tercinta masih berkategori “Zona Hijau” menurut klasifikasi oleh Lembaga kesehatan terkait. Sekolah resmi diliburkan.

Bacaan Lainnya

Seiring berjalan waktu aktifitas belajar seperti lumpuh tak berdaya. Pola belajar “daring” atau dalam jaringan/onlinepun diterapkan. Pola belajar daring ini memerlukan dua komponen utama yakni gawai (gadged android) dan paket data seluler. Permasalahan barupun muncul bahwa hampir 70% orang tua murid tidak punya android terutama di pedesaan.
Juga ketersediaan akses seluler tidak merata disemua kecamatan di Aceh Selatan.

Menghadapi persoalan ini Disdikbud Aceh Selatan melakukan perbaikan pola belajar dengan cara menerapkan pola daring dan luring secara bersamaan. Siswa yang memiliki gawai android melaksanakan Pola daring-online dan siswa yang tidak memiliki android melaksanakan pola belajar luring-luar jaringan dengan sistem kunjungan guru ke rumah siswa.

Apakah pola ini berjalan mulus? Jawabannya tidak! Karena pola baru ini juga menghadapi banyak kendala dan masalah. Salah satu masalah terbesar adalah orang tua siswa tidak memiliki cukup waktu dan tidak cukup sabar mendampingi anak belajar di rumah hal ini disebabkan karena himpitan ekonomi keluarga yang semakin memburuk dampak dari teror virus Corona yang semakin tak terbendung!

Apa aktifitas siswa di fase sekolah libur? Berdasarkan Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) yang kita lakukan secara kecil-kecilan, ternyata siswa usia sekolah lebih banyak berkeliaran diluar rumah daripada berada dirumah dengan berbagai aktifitas anak-anak pada umumya.

Beralih kita ke persoalan apakah pilihan kita melakukan belajar tatap muka disekolah atau tidak disaat wabah corona ini semakin melonjak tinggi?
Tentu saja keputusan ini mutlak berada di tangan pemerintah. Apapun keputusan pemerintah tentu telah didahului oleh berbagai pertimbangan dan kajian yang mendalam yang melibatkan instansi terkait dan para ahli dari berbagai bidang.

Namun jika pertanyaan ini diajukan kepada kami yang berprofesi sebagai “Pelayan Pendidikan” terutama yang berada di pedesaan maka jawaban kami adalah :

Kami memilih pembelajaran tatap muka dibuka kembali dengan alasan sebagai berikut :

1. Siswa jauh lebih terkontrol dan patuh pada aturan kesehatan melalui nasehat guru-gurunya daripada orang lain termasuk orang tua siswa sendiri.
2. Sekolah-sekolah dipedesaan sudah dilengkapi peralatan cuci tangan, masker siswa dan guru dan penataan tempat duduk minimal 1 meter antar siswa di ruang kelas
3. Sekolah hanya menerapkan kegiatan pembelajaran 50 % saja misalnya : Jika Sekolah A memiliki siswa 100 orang maka yang hadir setiap hari hanya 50 orang. Salah satu contoh Siswa kelas 1, 2, dan 3 pada hadir hari Senin, Rabu dan Jumat dan Kelas 4,5 dan 6 hadir hari Selasa, Kamis dan Sabtu)
4. Jam belajar perhari hanya 2 jam pelajaran (70 menit) : dimulai jam 08.00 sd. 09.45 wib langsung pulang tanpa ada jam istirahat.

Bagi sekolah-sekolah diperkotaan tentu saja mereka lebih siap dalam segala hal baik menyangkut sarana dan prasarana, tenaga pendidik maupun dukungan teknis lainnya.

Kami berharap paparan sederhana ini bukan untuk berpolemik antara setuju dan tidak setuju belajar tatap muka dimulai kembali namun hanya sebagai upaya memperkaya khasanah penyelesaian masalah dimasa sulit ini.

Kita semua berdoa dan memberi dukungan sepenuhnya kepada pemerintah Aceh Selatan dan para pejuang kesehatan ; Dokter, tenaga medis dan dan tenaga teknis medis lainnya yang sedang berjuang di garda depan melawan Virus Corona ini, semoga selalu dalam lindungan Allah yang maha kuasa.
Wallahu a’lam.

Kerajaan Trumon, 2 September 2020
Helmi
Pelayan Pendidikan
0822-7202-2344

Pos terkait