Rintihan Peternak Ayam Petelur Sampang Ditengah Anjloknya Harga Telur
SAMPANG • Nasib kurang baik tengah menimpa para pengusaha ternak ayam petelur di Indonesia, termasuk di Sampang, Madura, Jawa Timur.
Mereka kini harus memutar otak, demi mempertahankan usahanya di tengah anjloknya harga telur.
Kondisi diperparah dengan harga pakan yang terus melambung tinggi.
Akibatnya, para peternak harus mengambil keputusan pahit dengan menjual telur di bawah harga normal.
Bahkan, tak jarang harus merogoh kocek pribadi demi mencukupi kebutuhan operasional.
Arifin, peternak asal Desa Jelgung, Kecamatan Robatal, mengaku sudah merasakan dampak buruk ini sejak dua bulan terakhir.
Pria yang telah belasan tahun menggeluti usaha ini, menyebut harga telur di tingkat grosir kini hanya menyentuh angka Rp19.000 per kilogram.
”Sudah hampir dua bulan harga terus turun. Sekarang sudah di kisaran 19 ribuan,” ujar Arifin kepada Regamedianews, Sabtu (27/6/2026).
Menurut Arifin, harga jual tersebut jauh dari kata ideal, jika dibandingkan dengan biaya pakan dan perawatan yang terus merangkak naik.
Ia terpaksa mencari pinjaman modal untuk menutupi kerugian operasional hariannya.
”Ya, untuk menutupi kekurangan, kami harus memutar otak. Mau tidak mau harus cari pinjaman dulu agar usaha tetap berjalan,” tambahnya.
Keluhan serupa juga datang dari Hodari, peternak asal Desa Gunung Rancak, Robatal.
Sebagai peternak pemula, ia mengaku sangat terkejut melihat kondisi pasar saat ini.
Ia tak menyangka usaha yang baru dirintis beberapa bulan lalu langsung diuji dengan kondisi yang sangat sulit.
”Awalnya saya kira harga akan stabil, ternyata faktanya begini,” tuturnya dengan nada kecewa.
Hodari berharap, pemerintah segera turun tangan untuk menstabilkan harga telur di pasaran.
“Saya meminta adanya solusi konkret, seperti subsidi harga pakan bagi para peternak lokal,” ujarnya.
Ia mengaku sempat menaruh harapan besar saat Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman, menetapkan Harga Acuan Pembelian (HPP) di tingkat produsen sebesar Rp26.500 per kilogram.
Namun, regulasi tersebut nyatanya belum dirasakan dampaknya di lapangan.
”Kami berharap ada solusi nyata. Faktanya di lapangan, harga yang kami terima jauh di bawah ketentuan yang diharapkan,” pungkasnya.
✅ Penulis: Ifan
✅ Editor: Redaksi


