PAMEKASAN • Suasana hari raya Idul Adha di Desa Ambat, Pamekasan, Madura, Jawa Timur, terasa penuh keakraban.

Ikatan Wartawan Online (IWO) setempat, berkumpul menggelar tradisi bakar sate daging kurban.

Tampak para kuli tinta ini duduk melingkar mengelilingi tungku pembakaran.

Aroma khas sate panggang yang bercampur asap kayu arang, seketika menghidupkan suasana malam.

Ada yang bertugas membolak-balik sate, meracik bumbu kecap, hingga menjaga bara api.

Ali Wafa anggota IWO mengungkapkan, kegiatan ini sengaja digelar agar menjadi ruang silaturahmi.

“Sambil bakar sate, kita ngobrol dan perkuat kekompakan,” ujarnya, Minggu (31/5/2026).

Bagi insan pers yang tergabung dalam IWO Pamekasan, agenda ini bukan sekadar urusan mengisi perut.

“Momen seperti ini sangat krusial untuk menjaga soliditas organisasi di luar aktivitas jurnalistik,” ungkapnya.

Menurut Ali Wafa, kedekatan personal yang terbangun lewat tusuk-tusuk sate ini diyakini bakal berdampak positif.

Sementara, Ketua IWO Pamekasan, Dyah Heny Andrianty, mengapresiasi inisiatif kebersamaan ini.

Ia berharap, tradisi baik ini bisa terus diagendakan secara rutin setiap Idul Adha.

“Saya berharap kekompakan teman-teman IWO terus terjalin,” ungkap Heny.

Ia menekankan, soliditas organisasi modal utama jurnalis dalam menjalankan fungsinya di tengah masyarakat.

Dengan solid, kata Heny, bisa optimal menjalankan peran kontrol sosial, menyampaikan informasi yang benar,

“Tentunya ikut mengawal pembangunan di Pamekasan untuk kemaslahatan masyarakat,” imbuhnya.

Malam itu, lewat bara api dan kesederhanaan IWO Pamekasan berhasil membuktikan sebuah pesan penting.

Heny mengungkapkan, esensi Idul Adha sejatinya bukan terletak pada kemewahan.

“Melainkan pada nilai berbagi, rasa syukur, dan eratnya silaturahmi yang terus dirawat dengan baik,” pungkasnya.

Penulis: Marshelina
Editor: Redaksi