Pengemudi Perahu Taxi di Gorut Keluhkan Kenaikan BBM
Gorontalo Utara || Rega Media News
Baru-baru ini Pemerintah Pusat melalui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif, mengumumkan dengan menaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak), terhitung sejak per tanggal 03 Agustus 2022.
Berdasarkan data yang dirangkum media ini, untuk harga Pertalite yang sebelumnya berada di posisi Rp. 7.650/Liter, naik menjadi Rp. 10.000/Liter, sementara Pertamax yang sebelumnya berada di posisi harga Rp. 12.500/Liter, naik menjadi Rp. 16.000/Liter. Sedangkan Solar yang sebelumnya ada di posisi harga 5.150/Liter, naik menjadi Rp. 7.200/Liter.
Dari hasil penelusuran awak media ini, untuk harga penjualan Pertalite di depot-depot atau di Pom Mini, yang menjadi tempat masyarakat umum yang berprofesi sebagai pengemudi angkutan umum antar dalam kota, untuk membeli bahan bakar kenderaannya naik hingga Rp. 13.000/Liter, yang sebelunya berada di kisaran harga 10.000/Liter.
Kenaikan harga BBM ini pun, sontak menuai aksi protes dari berbagai kalangan di berbagai daerah seluruh Indonesia, mulai dari Mahasiswa, Aktivis, hingga masyarakat umum yang berprofesi sebagai pengemudi kenderaan angkutan umum.
Tak terkecuali, para pengemudi perahu taxi, di Kecamatan Ponelo, Kabupaten Gorontalo Utara. Menurut salah seorang pengemudi perahu taxi, Suwitno Lajaa, saat diwawancarai awak media ini mengungkapkan, mengeluhkan kenaikan BBM yang telah dilakukan oleh pemerintah pusat.
“Yang jelas semua itu juga ikut naik, salah satunya tarif taxi yang mau tidak mau kita naikan juga. Sebelumnya, kalau dari Pelabuhan Kwandang ke Ponelo itu kan Rp. 7.000, tapi sekarang kan dengan kenaikan BBM, tapi sekarang sudah naik Rp. 3.000 menjadi Rp. 10.000,” ungkap Suwitno, saat ditemui awak media ini, Jumat (09/09/2022).
Dijelaskannya, dengan kenaikan BBM yang berdanpak pula pada kenaikan tarif perahu taxi, berakibat juga pada menurunnya penumpang yang menggunakan jasa angkutan umum perahu taxi. Sehingga, omsetnya dalam perhari pun menjadi berkurang.
“Untuk mereka punya aktivitas dalam satu hari itu kan mereka batasi, karena dengan adanya kenaikan BBM ini kan, taxi naik, sewa bentor naik, jadi aktivitas yang mungkin kurang penting, mereka tidak lakukan,” jelas Suwitno.
“Sebelum kenaikan BBM, perhari itu kita minimal dua kali mengantarkan penumpang, tapi semenjak kenaikan BBM ini kadang tinggal satu kali jalan. Itu pun yang tadinya satu kali jalan sampai 8 orang penumpang, sekarang tinggal 5 atau 6 penumpang saja,” imbuhnya.
Ia berharap, pemerintah daerah dapat memberikan solusi, agar harga eceran BBM di depot-depot dapat disamaratakan harganya dengan harga yang ada di SPBU, sehingga kenaikan BBM tidak berdampak pada mata pencahrian mereka.
“Harapannya, untuk kenaikan BBM ini, istilahnya sampai ke kami masyarakat di desa-desa terpencil seperti di pulau (Ponelo, red) itu, bisa mendapatkan harga sesuai dengan yang di pertamina (SPBU, red), Rp. 10.000. Karena di depot-depot sekarang itu paling murah, Rp. 12.000/liter untuk pertalite, yang tadinya kami bisa dapatkan Rp. 9.000 sampai Rp. 10.000, tapi sekarang sudah Rp. 12.000 sampai Rp. 13.000/liter,” tutup Suwitno.


