Gus Faiz di Ponpes Jrangoan: Pentingnya Menjaga Sanad Ilmu di Era Digital
SAMPANG • Prosesi Wisuda Kelas Akhir dan Maulid Nabi di Ponpes Al-Ihsan Jrangoan, Sampang, Madura, Jawa Timur, berlangsung khidmat, Senin (24/8/2026) malam.
Acara tahunan yang bertepatan dengan 11 Rabiul Awwal 1448 Hijriyah tersebut dihadiri masayikh, serta wali santri dan alumni.
Suasana acara semakin berkesan ketika memasuki sesi utama, yakni tausiyah dari penceramah tersohor KH. Faiz Syukron Ma’mun.
Ulama kharismatik yang akrab disapa Gus Faiz ini merupakan sosok kelahiran Jakarta, 8 Mei 1974.
Saat ini ia mengemban amanah sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) DKI Jakarta, sekaligus Katib Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2022-2027.
Meski kini banyak berkiprah di ibu kota, putra dari KH. Syukron Ma’mun ini memiliki ikatan batin yang erat dengan Ponpes Al-Ihsan.
Ulama yang berkiprah di tingkat nasional tersebut merupakan sosok keturunan asli dari Desa Jrangoan.
Filosofi Mukjizat Nabi dan Spirit Keilmuan Santri
Dalam ceramahnya, Gus Faiz memaparkan hikmah kisah mukjizat para nabi, sebagai analogi perjuangan santri di tengah era modern.
Ia mencontohkan, kehebatan tongkat Nabi Musa yang mampu membelah lautan dan mengalahkan kebatilan Fir’aun.
Begitu pula mukjizat Nabi Isa, atas izin Allah mampu menyembuhkan penyakit hingga menghidupkan orang mati.
Menurut kiai lulusan Universitas Al-Azhar Kairo ini, bagi seorang wisudawan pesantren saat ini, mukjizat nyata bukanlah hal-hal bersifat metafisik.
“Mukjizat santri masa kini berwujud ilmu pengetahuan yang bermanfaat, akhlakul karimah, serta keberkahan sanad keilmuan,” tuturnya.
Gus Faiz mengungkapkan, ilmu yang diserap selama di pesantren harus mampu menjadi “tongkat” penuntun kebenaran.
Selain itu, ilmu tersebut juga mesti menjadi obat yang menyembuhkan berbagai penyakit sosial di tengah masyarakat.
“Keberkahan ilmu yang dibawa dari pesantren, harus bisa menjadi penawar dan penerang di manapun kalian mengabdi kelak,” pesannya.
Strategi Dakwah Era Digital dan Pelajar Non-Pesantren
Tak hanya pesan spiritual klasik, Gus Faiz juga menyoroti pentingnya merespons dinamika era digital.
Ia membagikan pengalamannya, menyampaikan dakwah dan edukasi nilai-nilai Islam kepada generasi muda non-pesantren.
Menurutnya, dakwah untuk pelajar SD hingga SMA tidak bisa lagi menggunakan pendekatan kaku.
Penyampaian nilai keagamaan perlu dikemas secara interaktif, dan memanfaatkan platform media sosial (medsos) secara kreatif.
“Kita perlu hadir di ruang digital dengan narasi yang menyejukkan dan mudah dipahami,” jelas Gus Faiz.
Soroti Fenomena ‘Santri Online’ dan Pentingnya Sanad
Meski mendukung teknologi, Gus Faiz mengkritik fenomena “santri online” yang belajar agama hanya dari potongan video di internet.
Ia menegaskan, medsos memang sangat efektif sebagai sarana syiar dan tahap pengenalan awal (ta’arif) terhadap ajaran Islam.
“Namun, platform digital tidak bisa menggantikan proses belajar keagamaan secara mendalam (tafaqquh fiddin),” tuturnya.
Gus Faiz mengingatkan, belajar lewat medsos boleh untuk wawasan, tetapi tidak boleh menggantikan adab talaqqi (belajar langsung) kepada kiai.
“Santri online harus tetap memiliki ikatan batin dan menghormati sanad keilmuan para ulama,” pungkasnya.

Sekadar diketahui, rangkaian prosesi wisuda dan peringatan Maulid Nabi dibawah naungan KH. Mahrus Abdul Malik ini berlangsung penuh khidmat hingga akhir acara.
Kegiatan tersebut juga ditayangkan secara langsung melalui kanal resmi YouTube Media Center Al-Ihsan (MCA) Jrangoan.
✅ Penulis: Harry
✅ Editor: Redaksi


