Tangan Lembut di Tanah Berlumpur: Cinta Masyarakat Sampang Untuk TNI
SAMPANG • Kedekatan ikatan emosional antara TNI AD dan masyarakat di Pulau Madura bukan sekadar slogan di atas kertas, melainkan realitas hidup yang terus terpelihara.
Di atas hamparan tanah gembur Kabupaten Sampang, rasa hormat dan kecintaan warga tumpah ruah secara alami saat menyambut kehadiran prajurit dalam rangkaian agenda Karya Bakti Skala Besar (KBSB) TNI AD.
Kemanunggalan ini tercipta dari pola interaksi tanpa jarak yang secara konsisten ditunjukkan oleh para bintara pembina desa di lapangan.
Momen hangat dan penuh kekeluargaan itu terekam jelas ketika Pelda Budi Priyantoko, anggota Kodim 0828/Sampang yang memiliki rekam jejak panjang mengabdi di Koramil Omben dan kini bertugas di Koramil Banyuates, berbaur tanpa sekat di tengah ladang.
Mengenakan sepatu boot dan seragam loreng khasnya, ia tidak segan membungkuk dan menyatu dengan ritme kerja para petani.
Dengan jemari yang terbiasa memegang senjata, Pelda Budi tampak cekatan ikut menanam benih bersama ibu-ibu petani di bawah naungan langit Madura yang teduh.
Bagi warga di pelosok Sampang, sosok Pelda Budi dan para prajurit TNI AD lainnya telah lama melampaui figur aparat pengaman territorial semata.
Kedatangan mereka di tengah permukiman maupun areal persawahan, selalu disambut bagaikan kepulangan anggota keluarga sendiri yang dirindukan.
Kerendahan hati prajurit yang mau ikut berkeringat di bawah terik matahari, menjadi alasan utama mengapa posisi TNI begitu melekat di hati masyarakat desa.

Musripah, warga Sampang yang sehari-hari menggantungkan hidup dari mengolah lahan pertanian, tak mampu menyembunyikan rasa haru dan bangganya saat bekerja berdampingan dengan aparat teritorial tersebut.
“Kami sangat senang dan bangga luar biasa. Pak TNI tidak canggung sama sekali turun ke tanah berlumpur bersama kami, ikut mencangkul dan menanam,” ujarnya, Selasa (18/08/2026).
“Rasa lelah berladang seharian rasanya hilang seketika karena kami merasa ditemani, dihargai dan diayomi. Bagi kami warga kecil, TNI bukan lagi tamu, tapi sudah seperti saudara kandung sendiri,” tutur Musripah dengan raut wajah sumringah.
Kekaguman senada disampaikan oleh Salma, ia menilai kesederhanaan, kepedulian, dan kerendahan hati prajurit TNI itulah yang menjadi akar utama mengapa masyarakat menyimpan rasa cinta dan kepercayaan yang begitu mendalam terhadap institusi TNI.
“TNI itu selalu punya tempat istimewa di hati warga Madura. Kasih sayang, bantuan, dan perhatian yang tulus dari bapak-bapak TNI ini yang membuat kami semakin sayang, nyaman, dan bangga memiliki TNI AD yang selalu membela rakyatnya,” ungkap Salma.
Menanggapi besarnya empati, kehangatan, dan penerimaan tulus dari warga, Pelda Budi Priyantoko menyampaikan, ikatan emosional yang kuat ini modal utama sekaligus pegangan hidupnya dalam menjalankan tugas pembinaan teritorial.
Menurutnya, kecintaan dan kepercayaan rakyat adalah jiwa sekaligus kekuatan utama sebagai prajurit. Ketika warga tersenyum lebar, menyapa ramah, dan menerima dengan tangan terbuka di ladang mereka, di situlah letak nilai tertinggi serta kepuasan batin dari pengabdian seorang prajurit TNI.
“Kami hadir untuk rakyat, dan kami akan selalu kuat selama terus menyatu bersama rakyat,” tegas Pelda Budi di sela-sela aktivitasnya.
Ia mengungkapkan, Potret kemanunggalan yang terbangun secara alami di pelosok Kabupaten Sampang ini menjadi cermin nyata bahwa di Pulau Madura hubungan TNI dan rakyat bukan sekadar relasi kerja formal.
“Melainkan jalinan ikatan batin yang mengakar kuat dan saling menguatkan, dalam membangun ketahanan masyarakat dari desa,” pungkasnya.
✅ Penulis: Hariyanto
✅ Editor: Abd Basit


