BANGKALAN • Dapur SPPG Yayasan Laili Izzatul Faqoh di Desa Gili Timur, Kamal, Bangkalan, disorot akibat dugaan pencemaran bau tak sedap.

Menanggapi isu tersebut, pengelola menyatakan, operasional fasilitas mereka telah dirancang sesuai prosedur.

Mitra SPPG Gili Timur, H. Subaidi, bahkan mempertanyakan kebenaran tuduhan tersebut.

Ia menilai klaim yang beredar perlu dibuktikan secara langsung, dan meminta kejelasan terkait titik lokasi yang dipermasalahkan.

“Kalau memang ada bau tak sedap, kami ingin tahu di mana titik lokasinya dan dari mana sumbernya,” kata Subaidi.

Di tengah sorotan tersebut, Alvin Kurniasih, salah satu warga setempat, menyampaikan kesaksian berbeda.

Menurut pemantauannya di area permukiman dekat lokasi, tidak ada dampak bau menyengat yang dirasakan warga.

“Lingkungan tetap bersih, nyaman, dan aktivitas dapur sama sekali tidak mengganggu warga,” klaim Alvin.

Selain masalah lingkungan, Alvin menyinggung peran ekonomi fasilitas tersebut bagi masyarakat sekitar.

Menurutnya, keberadaan dapur gizi ini menyerap tenaga kerja lokal di wilayah tersebut.

“Keberadaannya jelas memberi manfaat nyata bagi perekonomian warga,” tambah Alvin.

Terkait sistem pengolahan limbah, Subaidi mengklaim, pembangunan dan operasional dapur telah merujuk pada Juknis Badan Gizi Nasional (BGN).

“Fasilitas ini mengandalkan grease trap serta Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) berbasis bio-filter,” ujarnya.

Meski diterpa rumor negatif, pihaknya siap membuka pintu pengawasan dari masyarakat maupun instansi berwenang.

“Kami sangat terbuka untuk siapapun. Kebersihan dan asrinya lingkungan adalah komitmen utama kami,” tegas Subaidi.

Penulis: Syafin
✅ Editor: Redaksi