Gerebek Terduga Bandar Narkoba, Satu Polisi Tewas, Dua Hilang
KALTENG • Bahaya penyalahgunaan narkoba saat ini benar-benar sudah memprihatinkan di Indonesia.
Bukan hanya efek secara fisik dan kesehatan, tapi juga pengaruh sosial hingga melawan terhadap petugas.
Seperti yang terjadi di Desa Tumbang Kalemei, Katingan, Kalimantan Tengah, pada Rabu (1/7/2026) dini hari.
Nahas, satu orang polisi bernama Yudhie berpangkat Aipda, harus kehilangan nyawa saat melalukan penggerebakan.
Petugas berusaha menangkap terduga bandar narkoba, namun mendapatkan perlawanan dari kawanan pendukung bandar barang haram tersebut.
Tak hanya sampai disitu, dua orang anggota polisi, Aiptu Sumaryanto dan Bripda Nopandri Ramadhana dinyatakan hilang.
Bahkan, hingga Direktorat Tindak Pidana Narkoba dari Bareskrim Polri harus menurunkan timnya.
Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Brigjen Eko Hadi Santoso mengatakan, pihaknya akan melakukan backup penuh terhadap jajaran di lapangan.
“Baik dalam proses pencarian anggota yang masih belum ditemukan, pengamanan wilayah, maupun pengungkapan tuntas jaringan narkotika dan pelaku penyerangan terhadap anggota Polri,” ujarnya, Kamis (2/7).
Eko mengungkapkan, saat ini tim gabungan masih mencari dua personel yang belum ditemukan dan mengamankan lokasi kejadian.
“Termasuk mendalami keterlibatan para pelaku yang diduga menyerang petugas dalam operasi tersebut,” imbuhnya.
Peristiwa nahas itu berawal, saat Satresnarkoba Polres Katingan menindaklanjuti informasi masyarakat, mengenai dugaan peredaran sabu di Desa Tumbang Kalemei.
Polisi terus mendalami laporan tersebut, dari hasil penyelidikan mengarah kepada seorang target operasi berinisial BIO, merupakan residivis kasus narkotika.
Dua belas personel polisi diterjunkan dalam operasi tersebut. Setiba di lokasi, tim dibagi menjadi dua kelompok.
Tim pertama melakukan penindakan di rumah target, sedangkan tim kedua bersiaga di lokasi lain.
Saat operasi berlangsung, target berhasil di tangkap, namun beberapa orang di dalam rumah dan warga sekitar melakukan perlawanan menggunakan senjata tajam parang.
Massa terus bertambah, petugas diserang bukan hanya dengan parang, tapi juga memakai senjata api rakitan hingga situasi semakin tak terkendali.
Bahkan atas insiden tersebut, petugas harus menyelamatkan diri menyeberangi sungai, untuk berlindung di hutan seraya meminta bantuan personel.
✅ Penulis: Red
✅ Editor: Redaksi


